Cyberspace:
Wajah Baru Imperialis-Kapitalis
Global
(Analisis
Film Avatar)[1]
By:
Rohana[2]
Sinopsis
Jake Sully (Sam
Worthington), mantan angkatan laut
Amerika
Serikat yang terluka dan cacat akibat perang. Ia terpilih untuk berpartisipasi dalam program Avatar, yang
memungkinkannya bisa berjalan kembali. Jake menuju ke Pandora, sebuah hutan nan subur yang penuh
dengan berbagai macam makhluk hidup yang baik dan yang mengerikan.
Pandora juga rumah bagi suku
Na’vi, makhluk yang mirip manusia dengan kehidupan primitif
serta memiliki kemampuan seperti manusia. Saat manusia mencoba memasuki Pandora
untuk menambang mineral
yang ada di sana, suku Na’vi memerintahkan para prajuritnya
untuk melindungi negerinya dari ancaman. Jake direkrut untuk menjadi bagian
dari proyek ini. Karena manusia tidak dapat menghirup udara di negeri Pandora,
maka mereka menciptakan makhluk yang mirip suku Na’vi yang mereka sebut sebagai
Avatar. Di Pandora, dengan tubuh Avatar, Jake dapat berjalan kembali. Di hutan
Pandora, Jake melihat banyak keindahan dan bahaya. Ia juga bertemu dengan wanita muda
Na’vi bernama Neytiri (Zoe Saldaña).
Seiring berjalannya waktu, Jake berbaur dengan suku Na’vi
dan jatuh cinta
kepada Neytiri. Pada akhirnya, Jake terjepit antara tujuannya dikirim oleh
perusahaan tambang ke Pandora dan suku Na’vi, yang memaksanya untuk memihak
pada satu pilihan yang akan menentukan nasib suku Na’vi dan manusia di Pandora.
Pandora
Pandora (pengucapan /pænˈdɔərə/ pan-DOHR-ə), adalah bulan
fiksi pada film Avatar karya James Cameron
dan seting pada permainan video Avatar.
Bulan ini mengorbit planet
raksasa gas
yang bernama Polythemis. Pandora adalah bulan ekstraterestrial
yang rindang dengan kehidupan yang unik. Pandora dihuni banyak makhluk cantik,
tetapi banyak juga yang mengerikan. Pandora juga merupakan tempat tinggal suku
Na’vi. Mereka adalah suku humanoid yang primitif, tetapi secara evolusi lebih
maju dari manusia. Dengan tinggi tiga meter, dengan ekor dan kulit berwarna
biru, Na’vi hidup dalam kedamaian.
Ciri paling penting Pandora adalah atmosfer
berbasis amonianya. Manusia dapat bertahan di permukaan Pandora tanpa alat
pelindung, namun mereka memerlukan persediaan oksigen atau mereka akan tewas.
Ciri penting lain yang mengundang manusia datang ke tempat ini adalah mineral
langka yang disebut "Unobtainium".
Unobtainium memproduksi gaya magnetik yang kuat
dan vital untuk memproduksi komponen kapal angkasa Bumi yang
maju. Sementara Unobtainium sangat langka di bumi, tapi jumlah Unobtainium
sangat banyak di Pandora. Vertebrata di Pandora berevolusi hingga memiliki enam kaki (kecuali Na'vi).
Hewan terbang memiliki dua sayap dan empat kaki[3].
Analisis
Abad
21 ditandai dengan meledaknya informasi sebagai imbas dari ekselerasi
perkembangan teknologi media. Melalui jaringan computer global yang lebih
popular dengan perangkat internet, ideology (kapitalisme) pasar media telah merembet ke dalam sisi-sisi paling subtil
masyarakat seluruh dunia (Astar Hadi, 2005: vii). Dengan perangkat computer
yang terjaring, akses terhadap informasi apapun dapat dengan mudah terwujud.
Perangkat ini mampu menciptakan system dunia baru yang berbeda dengan realitas
dunia nyata secara hakikatnya.
Teknologi
computer yang dewasa ini telah terjaring dan bahkan melampaui realitas nyata
ini merupakan perkembangan dari teknologi mesin yang berfungsi sebagai alat
penggerak energy manusia dan menggantikannya untuk tujuan efesiensi,
efektivitas, dan tentu keuntungan besar-besaran dari pembuat teknologi itu
sendiri. Teknologi mesin dan computer bersinergis menciptakan kekuatan yang
nantinya dapat mengeksploitasi tidak hanya manusia, tetapi juga alam. Dalam
film avatar digambarkan bagaimana mesin dan computer mengambil peran yang
begitu signifikan dalam proses eksploitasi manusia dan alam. Sebagian manusia
hanya berperan sebagai subjek sekaligus objek dalam pemuasan hasrat manusia
lainnya yang berperan pencipta teknologi dan pengais keuntungan (kapitalis)
itu.
Berawal
dari janji keuntungan berlipat ganda setelah misi tercapai, yaitu setelah
tergesernya orang-orang pribumi (masyarakat local) yang menempati tanah subur
dengan kekayaan alamnya yang tak terkira, manusia modern, pemegang dan
pengontrol mesin ini berupaya sekuat daya dan pikiran untuk menuntaskan
misinya. Dengan bantuan mesin penggerak mereka mampu merusak dan menghancurkan
tempat tinggal pribumi local. Namun kekuatan energy alam yang telah
berinteraksi lama dengan jiwa-jiwa orang-orang pribumi, dapat menghalau
kekuatan mesin mereka. Namun kapitalis tetaplah kapitalis yang tak pernah
berhenti dari pikirannya tentang keuntungan besar. Mereka terus berupaya dengan
jalan apapun untuk meraup keuntungan tersebut. maka digambarkan dalam film
avatar ini bagaimana mereka berupaya mendekati secara psikologis orang-orang
pribumi agar mau berpindah dari tanah mereka yang menguntungkan itu.
Diciptakanlah mesin yang sangat canggih yang mampu membuat manusia berbeda
dengan aslinya. Melalui penggabungan DNA manusia (modern) dengan DNA orang
pribumi local hutan, dan hal tersebut tentu tak lepas dari kerja mesin, maka
menjelmalah manusia tersebut menjadi makhluk pribumi seperti yang mereka
inginkan. Ilmu pengetahuan begitu cepatnya merambat ke wilayah yang dalam dari
sisi pisik dan psikis manusia. Ilmu pengetahuan menjadi alat untuk membantu
manusia mencapai hasrat baik hasrat mengembangkan pengetahuan itu sendiri atau
hasarat kapitalis yang hanya menginginkan keuntungan besar bagi diri dan
kelompoknya.
Film
avatar menggambarkan bagaimana manusia yang telah diperalat mesin tadi mencoba
mendekati orang pribumi dan menyelami setiap tindakan dan geraknya. Dan
lagi-lagi yang diperalat atau yang menjadi objek adalah manusia-manusia yang
syaraf-syarafnya mendekati atau mirip dengan syaraf pribumi. Maka dipilihlah
orang yang cocok. Senyatanya dalam film avatar ini menjelaskan bahwa yang cocok
untuk kehidupan orang pribumi adalah mereka (manusia) yang memiliki hati atau
lebih tepatnya yang memiliki tujuan yang baik, tidak mengancam atau merusak
keseimbangan manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya, dan juga dengan alam
tempat mereka tinggal. Inilah sebuah kritik bagi pemegang kekuatan teknologi
mesin dan computer yang hanya focus pada kekuatan teknologinya tanpa memandang
dan memperdulikan manusia sebagai subjek pengendali diri dan sosialnya maupun
alam sebagai penyeimbang kehidupan manusia. Alam dan manusia memiliki
keterikatan energy, jiwa, dan kekuatan yang mampu menyeimbangkan system
kehidupan secara universal. Apabila keseimbangan itu diusik, maka akan
hancurlah kehidupan manusia dan alam itu sendiri. Kritik humanis yang dibangun
dalam film tersebut sejalan dengan kritik humanis Mark Slouka terhadap cyberspace
dewasa ini. cyberspace sebagai dunia baru yang diciptakan oleh teknologi media,
menurut Mark Slouka merupakan dunia yang menggeser makna realitas nyata manusia
yang sebenar-benarnya. Slouka menangisi hilangnya realitas-realitas masa lalu
kita yang di dalamnya terkandung realitas yang jauh lebih bermakna, jauh lebih
jujur, dan jauh lebih arif. Slouka menyayangkan dinamika kehidupan manusia yang
tenggelam dalam realitas semu yang justru menjadikan kita seperti orang dungu,
dan menjadikan kita secara kolektif seperti bocah-bocah yang mudah ditipu
(Slouka dalam Astar Hadi, 2005: 10). Sebuah pandangan Destopian yang mengatakan
bahwa cyberspace adalah dunia yang sebenarnya mengisolasi, menggeser makna
realitas sebenarnya, dan menjadikan hilangnya realitas. Sebuah dunia yang
mengacaukan keseimbangan, mereduksi nilai-nilai dan identitas local. Sebuah
ruang yang tumpang tindih, mengapung dalam realitas semu yang sulit dimaknai,
dan hilangnya batas-batas social manusia.
Film
avatar menegaskan arti pentingnya keseimbangan yang nantinya membentuk hubungan
yang harmonis antara makhluk dengan Tuhannya, dengan sesamanya, dan dengan
alamnya. Hal ini digambarkan dengan perlawanan orang-orang pribumi local hutan
avatar terhadap pengrusakan alam mereka, terlebih terhadap kekuatan yang
disimbolkan pada pohon raksasa, dan juga tempat suci mereka yaitu tempat
jiwa-jiwa suci. Pada abad ini sebenarnya masih banyak yang mengkritik hal
serupa seperti apa yang digambarkan film avatar sendiri. Masyarakat local
member perlawanan dengan membentuk kekuatan resistensi pada kelompok-kelompok
mereka dengan tujuan membendung masuknya para kapitalis yang berniat menggeser
nilai-nilai dan kekuatan alam mereka. Meskipun perlawanan ini boleh dibilang
tidak mempan karna memang globalisasi teknologi dan media merambat jauh ke
wilayah domestic masyarakat pribumi local, namun setidaknya hal tersebut dapat
meminimalisir arus dan dampak besar yang ditimbulkan teknologi tersebut.
Akhirnya
film avatar sampai pada pesan kritiknya bahwa teknologi adalah buatan manusia.
Ia hanya diatur dan dikontrol oleh manusia. Ia dapat dikalahkan oleh kekuatan
yang berimbang dari kekuatan-kekuatan alam dan manusia. Dampak teknologi memang
hanya akan mengacaukan keseimbangan apabila yang memegang control adalah
mereka-manusia yang hanya menginginkan keuntungan dengan mendistorsi manusia
dan alam. Dan sejauh ini, teknologi-teknologi tersebut tidak pernah lepas dari
penjajah dan kapitalis-dengan bentuk dan wujud apapun, nyata atau maya, kasar
atau lembut, penjajah dan kapitalis tetaplah menyesatkan dan mengacaukan.
Referensi:
Astar Hadi, Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis Mark Slouka terhadap Jagat
Maya, Yogyakarta: LKiS, 2005.
[1] Analisis ini merupakan salah
satu tugas mata kuliah Internet dan Masyarakat Virtual yang diampu oleh Labibah
Zain, MLIS.
[2] Adalah mahasiswa jurusan
Interdiciplinary Islamic Studies konsentrasi Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Avatar_%28film_2009%29.
Diunduh pada tanggal 04/12/2012 pukul 10.46 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar