Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2013

Tentang Netralitas Pustakawan



Pendapat Sandy Iverson (Pustakawan dan Penolakan)

Artikel yg saya analisis ini ada di buku Questioning library neutrality essays from progressive librarian, edited by Alison Lewis (Library Juice Press, Duluth, Minnesota: 2008)


Sebagai petugas pustakawan yang tetap menghendaki netralitas dalam memberikan akses informasi secara adil, pustakawan cenderung menolak politik sebagai bagian dari kehidupan dalam menjalankan peran pustakawan. Pustakawan cenderung melihat diri mereka sebagai penyedia layanan yang netral, menolak setiap sikap politik yang mungkin dihadapkan. Hal ini mendorong pustakawan untuk hanyut pada kekuatan politik dan ekonomi yang berkembang dalam suatu masyarakat.
Sementara pustakawan dilatih untuk mempertahankan sikap objektif atau netral mereka juga diharapkan untuk membuat keputusan tentang "baik" dan "buruk" bahan (koleksi). Pustakawan sering dilihat sebagai "ahli" dalam menentukan literatur dan sumber daya lain yang klien mereka butuhkan. Sayangnya, mereka tidak sering mengenali bias yang melekat di tempat kerja dalam membuat keputusan ini, Pustakawan umumnya menganggap pemilihan bahan sebagai apolitis.
Menurut Iverson, dalam hal ini ia juga sependapat dengan Jensen bahwa ia menginginkan pustakawan melihat dengan teliti praktek-praktek politik masyarakat, dan mengambil peran penting untuk bermain. Namun Iverson berpendapat bahwa pustakawan boleh bermain dalam politik asalkan hal itu tidak mendukung mereka bertindak dalam "kolusi dengan kekuatan-kekuatan yang melanggengkan kelemahan" (Harris, hal.75) tetapi untuk mendefinisikan kembali peran mereka untuk membantu dalam pembentukan masyarakat yang benar-benar adil. Untuk melakukan ini Iverson akan mendesak pustakawan dan pendidik pustakawan untuk mulai mempertanyakan "metanarasi" kepustakawanan yang dibangun.
Iverson menilai bahwa netralitas kepustakawanan itu memiliki batasan-batasan yang akan mengantarkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih adil, meskipun melalui peran politik yang dimainkan. Tentu catatannya adalah peran yang dimainkan harus sesui dengan prinsip kepustakawanan yang dibangun yaitu memberikan akses informasi yang sama tanpa membedakan atau tanpa mengikuti elit dominan dalam masyarakat. Lebih dari itu Iverson berpendapat bahwa objektivitas pustakawan harus mampu menilai mana informasi yang “salah” atau menyesatkan sehingga menimbulkan konflik, dan mana yang baik atau menguntungkan sehingga menambak keadilan masyarakat.
Sebagai contoh adalah Informasi yang cenderung rasis.  sebisanya pustakawan menyensor  informasi tersebut agar tidak terjadi sikap rasis yang lebih dalam di masyarakat. Pustakawan perlu memiliki sikap politis di dalam mengambil kebijakan terhadap peran yang dimainkannya.
Peran informasi dalam masyarakat kita menjadi semakin sentral dan seperti halnya banyak pertanyaan yang perlu dinaikkan. Jika kita menerima informasi yang terhubung ke pengetahuan dan pengetahuan untuk kekuasaan, kita harus memeriksa koneksi antara kekuasaan dan informasi dalam masyarakat postmodern kita. Apa implikasi bagi peningkatan akses ke informasi oleh segmen dominan dari masyarakat? Pustakawan dilatih dalam manipulasi ahli informasi dengan menguasai teknologi terhubung dengan penyebaran, produksi, dan pengambilan informasi. Namun, apa implikasi bagi masyarakat untuk tidak mempertanyakan apa jenis informasi yang dapat diakses dan apa jenis yang tidak, dan yang memiliki akses mudah?.
Dalam hal ini Iverson berpendapat bahwa objektivitas itu harus dinilai apakah informasi itu berkaitan dengan kekuasaan, dan apakah kekuasaan itu menguntungkan masyarakat atau malah sebaliknya?. Jika informasi tersebut bernilai baik bagi masyarakat, maka penolakan terhadap sikap politis bisa menjadi hambatan dalam mencapai peran pustakawan dalam menyampaikan informasi. Maka, menurut Iverson, perlu pemahaman tentang hubungan informasi dengan kekuasaan, dan di sinilah pustakawan bisa mengambil sikap apakah ia akan menolak atau akan bersikap politis.

Tentang Netralitas Pustakawan



Pendapat Sandy Iverson (Pustakawan dan Penolakan)

Artikel yg saya analisis ini ada di buku Questioning library neutrality essays from progressive librarian, edited by Alison Lewis (Library Juice Press, Duluth, Minnesota: 2008)


Sebagai petugas pustakawan yang tetap menghendaki netralitas dalam memberikan akses informasi secara adil, pustakawan cenderung menolak politik sebagai bagian dari kehidupan dalam menjalankan peran pustakawan. Pustakawan cenderung melihat diri mereka sebagai penyedia layanan yang netral, menolak setiap sikap politik yang mungkin dihadapkan. Hal ini mendorong pustakawan untuk hanyut pada kekuatan politik dan ekonomi yang berkembang dalam suatu masyarakat.
Sementara pustakawan dilatih untuk mempertahankan sikap objektif atau netral mereka juga diharapkan untuk membuat keputusan tentang "baik" dan "buruk" bahan (koleksi). Pustakawan sering dilihat sebagai "ahli" dalam menentukan literatur dan sumber daya lain yang klien mereka butuhkan. Sayangnya, mereka tidak sering mengenali bias yang melekat di tempat kerja dalam membuat keputusan ini, Pustakawan umumnya menganggap pemilihan bahan sebagai apolitis.
Menurut Iverson, dalam hal ini ia juga sependapat dengan Jensen bahwa ia menginginkan pustakawan melihat dengan teliti praktek-praktek politik masyarakat, dan mengambil peran penting untuk bermain. Namun Iverson berpendapat bahwa pustakawan boleh bermain dalam politik asalkan hal itu tidak mendukung mereka bertindak dalam "kolusi dengan kekuatan-kekuatan yang melanggengkan kelemahan" (Harris, hal.75) tetapi untuk mendefinisikan kembali peran mereka untuk membantu dalam pembentukan masyarakat yang benar-benar adil. Untuk melakukan ini Iverson akan mendesak pustakawan dan pendidik pustakawan untuk mulai mempertanyakan "metanarasi" kepustakawanan yang dibangun.
Iverson menilai bahwa netralitas kepustakawanan itu memiliki batasan-batasan yang akan mengantarkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih adil, meskipun melalui peran politik yang dimainkan. Tentu catatannya adalah peran yang dimainkan harus sesui dengan prinsip kepustakawanan yang dibangun yaitu memberikan akses informasi yang sama tanpa membedakan atau tanpa mengikuti elit dominan dalam masyarakat. Lebih dari itu Iverson berpendapat bahwa objektivitas pustakawan harus mampu menilai mana informasi yang “salah” atau menyesatkan sehingga menimbulkan konflik, dan mana yang baik atau menguntungkan sehingga menambak keadilan masyarakat.
Sebagai contoh adalah Informasi yang cenderung rasis.  sebisanya pustakawan menyensor  informasi tersebut agar tidak terjadi sikap rasis yang lebih dalam di masyarakat. Pustakawan perlu memiliki sikap politis di dalam mengambil kebijakan terhadap peran yang dimainkannya.
Peran informasi dalam masyarakat kita menjadi semakin sentral dan seperti halnya banyak pertanyaan yang perlu dinaikkan. Jika kita menerima informasi yang terhubung ke pengetahuan dan pengetahuan untuk kekuasaan, kita harus memeriksa koneksi antara kekuasaan dan informasi dalam masyarakat postmodern kita. Apa implikasi bagi peningkatan akses ke informasi oleh segmen dominan dari masyarakat? Pustakawan dilatih dalam manipulasi ahli informasi dengan menguasai teknologi terhubung dengan penyebaran, produksi, dan pengambilan informasi. Namun, apa implikasi bagi masyarakat untuk tidak mempertanyakan apa jenis informasi yang dapat diakses dan apa jenis yang tidak, dan yang memiliki akses mudah?.
Dalam hal ini Iverson berpendapat bahwa objektivitas itu harus dinilai apakah informasi itu berkaitan dengan kekuasaan, dan apakah kekuasaan itu menguntungkan masyarakat atau malah sebaliknya?. Jika informasi tersebut bernilai baik bagi masyarakat, maka penolakan terhadap sikap politis bisa menjadi hambatan dalam mencapai peran pustakawan dalam menyampaikan informasi. Maka, menurut Iverson, perlu pemahaman tentang hubungan informasi dengan kekuasaan, dan di sinilah pustakawan bisa mengambil sikap apakah ia akan menolak atau akan bersikap politis.

Senin, 03 Desember 2012

Cyberspace: Wajah Baru Imperialis-Kapitalis Global (Analisis Film Avatar)



Berkas:Avatar-Teaser-Poster.jpg
Cyberspace: Wajah Baru Imperialis-Kapitalis Global
(Analisis Film Avatar)[1]
By: Rohana[2]
Sinopsis
Jake Sully (Sam Worthington), mantan angkatan laut Amerika Serikat yang terluka dan cacat akibat perang. Ia terpilih untuk berpartisipasi dalam program Avatar, yang memungkinkannya bisa berjalan kembali. Jake menuju ke Pandora, sebuah hutan nan subur yang penuh dengan berbagai macam makhluk hidup yang baik dan yang mengerikan. Pandora juga rumah bagi suku Na’vi, makhluk yang mirip manusia dengan kehidupan primitif serta memiliki kemampuan seperti manusia. Saat manusia mencoba memasuki Pandora untuk menambang mineral yang ada di sana, suku Na’vi memerintahkan para prajuritnya untuk melindungi negerinya dari ancaman. Jake direkrut untuk menjadi bagian dari proyek ini. Karena manusia tidak dapat menghirup udara di negeri Pandora, maka mereka menciptakan makhluk yang mirip suku Na’vi yang mereka sebut sebagai Avatar. Di Pandora, dengan tubuh Avatar, Jake dapat berjalan kembali. Di hutan Pandora, Jake melihat banyak keindahan dan bahaya. Ia juga bertemu dengan wanita muda Na’vi bernama Neytiri (Zoe Saldaña).
Seiring berjalannya waktu, Jake berbaur dengan suku Na’vi dan jatuh cinta kepada Neytiri. Pada akhirnya, Jake terjepit antara tujuannya dikirim oleh perusahaan tambang ke Pandora dan suku Na’vi, yang memaksanya untuk memihak pada satu pilihan yang akan menentukan nasib suku Na’vi dan manusia di Pandora.
Pandora
Pandora (pengucapan /pænˈdɔərə/ pan-DOHR), adalah bulan fiksi pada film Avatar karya James Cameron dan seting pada permainan video Avatar. Bulan ini mengorbit planet raksasa gas yang bernama Polythemis. Pandora adalah bulan ekstraterestrial yang rindang dengan kehidupan yang unik. Pandora dihuni banyak makhluk cantik, tetapi banyak juga yang mengerikan. Pandora juga merupakan tempat tinggal suku Na’vi. Mereka adalah suku humanoid yang primitif, tetapi secara evolusi lebih maju dari manusia. Dengan tinggi tiga meter, dengan ekor dan kulit berwarna biru, Na’vi hidup dalam kedamaian.
Ciri paling penting Pandora adalah atmosfer berbasis amonianya. Manusia dapat bertahan di permukaan Pandora tanpa alat pelindung, namun mereka memerlukan persediaan oksigen atau mereka akan tewas. Ciri penting lain yang mengundang manusia datang ke tempat ini adalah mineral langka yang disebut "Unobtainium". Unobtainium memproduksi gaya magnetik yang kuat dan vital untuk memproduksi komponen kapal angkasa Bumi yang maju. Sementara Unobtainium sangat langka di bumi, tapi jumlah Unobtainium sangat banyak di Pandora. Vertebrata di Pandora berevolusi hingga memiliki enam kaki (kecuali Na'vi). Hewan terbang memiliki dua sayap dan empat kaki[3].
Analisis
Abad 21 ditandai dengan meledaknya informasi sebagai imbas dari ekselerasi perkembangan teknologi media. Melalui jaringan computer global yang lebih popular dengan perangkat internet, ideology (kapitalisme) pasar media  telah merembet ke dalam sisi-sisi paling subtil masyarakat seluruh dunia (Astar Hadi, 2005: vii). Dengan perangkat computer yang terjaring, akses terhadap informasi apapun dapat dengan mudah terwujud. Perangkat ini mampu menciptakan system dunia baru yang berbeda dengan realitas dunia nyata secara hakikatnya.
Teknologi computer yang dewasa ini telah terjaring dan bahkan melampaui realitas nyata ini merupakan perkembangan dari teknologi mesin yang berfungsi sebagai alat penggerak energy manusia dan menggantikannya untuk tujuan efesiensi, efektivitas, dan tentu keuntungan besar-besaran dari pembuat teknologi itu sendiri. Teknologi mesin dan computer bersinergis menciptakan kekuatan yang nantinya dapat mengeksploitasi tidak hanya manusia, tetapi juga alam. Dalam film avatar digambarkan bagaimana mesin dan computer mengambil peran yang begitu signifikan dalam proses eksploitasi manusia dan alam. Sebagian manusia hanya berperan sebagai subjek sekaligus objek dalam pemuasan hasrat manusia lainnya yang berperan pencipta teknologi dan pengais keuntungan (kapitalis) itu.
Berawal dari janji keuntungan berlipat ganda setelah misi tercapai, yaitu setelah tergesernya orang-orang pribumi (masyarakat local) yang menempati tanah subur dengan kekayaan alamnya yang tak terkira, manusia modern, pemegang dan pengontrol mesin ini berupaya sekuat daya dan pikiran untuk menuntaskan misinya. Dengan bantuan mesin penggerak mereka mampu merusak dan menghancurkan tempat tinggal pribumi local. Namun kekuatan energy alam yang telah berinteraksi lama dengan jiwa-jiwa orang-orang pribumi, dapat menghalau kekuatan mesin mereka. Namun kapitalis tetaplah kapitalis yang tak pernah berhenti dari pikirannya tentang keuntungan besar. Mereka terus berupaya dengan jalan apapun untuk meraup keuntungan tersebut. maka digambarkan dalam film avatar ini bagaimana mereka berupaya mendekati secara psikologis orang-orang pribumi agar mau berpindah dari tanah mereka yang menguntungkan itu. Diciptakanlah mesin yang sangat canggih yang mampu membuat manusia berbeda dengan aslinya. Melalui penggabungan DNA manusia (modern) dengan DNA orang pribumi local hutan, dan hal tersebut tentu tak lepas dari kerja mesin, maka menjelmalah manusia tersebut menjadi makhluk pribumi seperti yang mereka inginkan. Ilmu pengetahuan begitu cepatnya merambat ke wilayah yang dalam dari sisi pisik dan psikis manusia. Ilmu pengetahuan menjadi alat untuk membantu manusia mencapai hasrat baik hasrat mengembangkan pengetahuan itu sendiri atau hasarat kapitalis yang hanya menginginkan keuntungan besar bagi diri dan kelompoknya.
Film avatar menggambarkan bagaimana manusia yang telah diperalat mesin tadi mencoba mendekati orang pribumi dan menyelami setiap tindakan dan geraknya. Dan lagi-lagi yang diperalat atau yang menjadi objek adalah manusia-manusia yang syaraf-syarafnya mendekati atau mirip dengan syaraf pribumi. Maka dipilihlah orang yang cocok. Senyatanya dalam film avatar ini menjelaskan bahwa yang cocok untuk kehidupan orang pribumi adalah mereka (manusia) yang memiliki hati atau lebih tepatnya yang memiliki tujuan yang baik, tidak mengancam atau merusak keseimbangan manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya, dan juga dengan alam tempat mereka tinggal. Inilah sebuah kritik bagi pemegang kekuatan teknologi mesin dan computer yang hanya focus pada kekuatan teknologinya tanpa memandang dan memperdulikan manusia sebagai subjek pengendali diri dan sosialnya maupun alam sebagai penyeimbang kehidupan manusia. Alam dan manusia memiliki keterikatan energy, jiwa, dan kekuatan yang mampu menyeimbangkan system kehidupan secara universal. Apabila keseimbangan itu diusik, maka akan hancurlah kehidupan manusia dan alam itu sendiri. Kritik humanis yang dibangun dalam film tersebut sejalan dengan kritik humanis Mark Slouka terhadap cyberspace dewasa ini. cyberspace sebagai dunia baru yang diciptakan oleh teknologi media, menurut Mark Slouka merupakan dunia yang menggeser makna realitas nyata manusia yang sebenar-benarnya. Slouka menangisi hilangnya realitas-realitas masa lalu kita yang di dalamnya terkandung realitas yang jauh lebih bermakna, jauh lebih jujur, dan jauh lebih arif. Slouka menyayangkan dinamika kehidupan manusia yang tenggelam dalam realitas semu yang justru menjadikan kita seperti orang dungu, dan menjadikan kita secara kolektif seperti bocah-bocah yang mudah ditipu (Slouka dalam Astar Hadi, 2005: 10). Sebuah pandangan Destopian yang mengatakan bahwa cyberspace adalah dunia yang sebenarnya mengisolasi, menggeser makna realitas sebenarnya, dan menjadikan hilangnya realitas. Sebuah dunia yang mengacaukan keseimbangan, mereduksi nilai-nilai dan identitas local. Sebuah ruang yang tumpang tindih, mengapung dalam realitas semu yang sulit dimaknai, dan hilangnya batas-batas social manusia.
Film avatar menegaskan arti pentingnya keseimbangan yang nantinya membentuk hubungan yang harmonis antara makhluk dengan Tuhannya, dengan sesamanya, dan dengan alamnya. Hal ini digambarkan dengan perlawanan orang-orang pribumi local hutan avatar terhadap pengrusakan alam mereka, terlebih terhadap kekuatan yang disimbolkan pada pohon raksasa, dan juga tempat suci mereka yaitu tempat jiwa-jiwa suci. Pada abad ini sebenarnya masih banyak yang mengkritik hal serupa seperti apa yang digambarkan film avatar sendiri. Masyarakat local member perlawanan dengan membentuk kekuatan resistensi pada kelompok-kelompok mereka dengan tujuan membendung masuknya para kapitalis yang berniat menggeser nilai-nilai dan kekuatan alam mereka. Meskipun perlawanan ini boleh dibilang tidak mempan karna memang globalisasi teknologi dan media merambat jauh ke wilayah domestic masyarakat pribumi local, namun setidaknya hal tersebut dapat meminimalisir arus dan dampak besar yang ditimbulkan teknologi tersebut.
Akhirnya film avatar sampai pada pesan kritiknya bahwa teknologi adalah buatan manusia. Ia hanya diatur dan dikontrol oleh manusia. Ia dapat dikalahkan oleh kekuatan yang berimbang dari kekuatan-kekuatan alam dan manusia. Dampak teknologi memang hanya akan mengacaukan keseimbangan apabila yang memegang control adalah mereka-manusia yang hanya menginginkan keuntungan dengan mendistorsi manusia dan alam. Dan sejauh ini, teknologi-teknologi tersebut tidak pernah lepas dari penjajah dan kapitalis-dengan bentuk dan wujud apapun, nyata atau maya, kasar atau lembut, penjajah dan kapitalis tetaplah menyesatkan dan mengacaukan.
Referensi: Astar Hadi, Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis Mark Slouka terhadap Jagat Maya, Yogyakarta: LKiS, 2005.

[1] Analisis ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Internet dan Masyarakat Virtual yang diampu oleh Labibah Zain, MLIS.
[2] Adalah mahasiswa jurusan Interdiciplinary Islamic Studies konsentrasi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Avatar_%28film_2009%29. Diunduh pada tanggal 04/12/2012 pukul 10.46 WIB.