Tampilkan postingan dengan label My Soulmate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Soulmate. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2013



Cerita Masa Kecilk
Aku mencintainya terlalu dalam
Melebihi segala-galanya
Dalam dekapannya yang lembut
Aku merasakan kehangatan
Dalam desirannya yang pelan
Aku merasakan kesejukan
Dalam pancaran matanya yang tajam dan indah
Aku merasakan ketentraman
Aku begitu bebas bergaul dengannya
Sama2 lugu waktu itu
Sama-sama mencintai dengan bebas
Saling memberikan anugrah kehormatan
Setiap detik dalam aktivitasku
Selalu ditemaninya….
Duuuh..
Alam telah banyak mempengaruhi hidupku sekarang
Aku tumbuh menjadi seorang perempuan bebas
Sebagaimana ia mengajarkanku dulu
Tak bosan-bosannya aku mengingatnya
Bukan karena ia adalah kenangan terindahku
Tapi karena ia telah begitu dalam memasuki hidupku
Membentuk karakterku saat tumbuh
Menjadi pribadi seorang perempuan
Kau tau….?
Ketika tiba tanda-tanda hujan segera turun
Aku kebaskan seluruh pakaianku
Dan dengan sabar menunggunya
Bila tiba suara gemuruh derasnya datang
Segera saja kakiku melangkah, berlari,
Dan dengan senyum riang menghampirinya
Bermain sepuasnya..
Bila tiba waktunya pulang dari sekolah,
Dan aku sampai pula di rumah
Aku tak mengingat apa-apa
Kecuali ia…
Segera saja aku berlari, duduk bersamanya
Makan dan minum dengannya
aku tak pernah canggung bersamanya
malu sedikitpun tidak!
ia menuntun aku bagaimana
memeliharanya dengan cinta
mengajakku menghormati kebebasan siapa saja..
ia melayani semuanya tanpa ragu
dan ia akan diam, terluka,
namun tidak pernah membalas, jika terancam dan teraniaya.
Ia adalah jelmaan Tuhan
Tentu ia bukan Tuhan! Ia pun bercerita seperti itu
Tapi manifestasi Tuhan
Darinya segala watak Ilahi tercermin
Begitu lembut mempesona
Pengasih tanpa pamrih
Pembela kebebasan dan selalu adil
Pendidik yang tak ada duanya
Sungguh tak bisa lepas darinya
Inginku segera pulang
Menemuinya
Tempat aku kembali untuk selamanya
Abadi bersamanya…

Sabtu, 23 Maret 2013


Aku
Aku menulis tentang cinta
Sederhana, seperti tulisanku yang dulu-dulu
Kadang berjeda
Kadang mengalir seperti aliran air
Panjang berliku dan tak berakhir
Aku memahami setiap huruf  dengan emosi berbeda
Kadang tersenyum
Kadang terharu dan menangis
Aku tak mengerti kapan bahasa cinta itu terlahir
Ia datang tanpa mengetuk atau berpura-pura menyapa
Bahkan ia datang kapan saja ia mau, pada waktu yang kita anggap tepat atau sebaliknya
Aku menulis tentang cinta
Setelah kumerasakannya
Tanpa harus kupahami kepada siapa aku mencintai
Adilkah aku menghapus setiap huruf yang terangkai
Hanya karena yang aku cintai adalah ‘engkau’
adilkah aku mencoret2 setiap kata yang tersusun
Hanya karena yang aku cintai tak jua menolehku
Aku menulis tentang cinta
Melalui bahasa sederhana
tanpa harus berpikir
bahwa cinta akan seiring sejalan dengan harapan…
by: Rohana

SENDIRI
Aku berpikir tentang rembulan
Datang ketika mataku belum terpejam
Menerangi ruang yang tak lagi terisi
oleh suka atau kenangan
Malam ini aku ingin mengingatmu kembali
Mengisi setiap kekosongan setelah kau pulang  sekitar 1 tahun lalu
Merenungkanmu duduk bersamaku, bertukar cerita
Bertukar suka dan duka
Aku berpikir tentang kejora
Tersenyum melewati fajar bersamaku
Merangkai sajak, melukis jejak
Malam ini aku merindukanmu
Seperti anak burung yang ditinggalkan induknya
Hendak menyusul terbang…………..
 tak kuasa.
by: Rohana

Minggu, 13 Januari 2013

Enam Bulan Lagi



Enam Bulan lagi
Terhitung sejak hari ini
Kurang lebih enam bulan lagi
Aku pulang ke tanah syurgaku
Membawa yang tak pasti
Mungkin hanya tetesen kecil
Mengalir di sudut hati
Menyelinap lentur seperti aroma di gua cermei itu
Iya, setetes pengalaman setelah bertahun-tahun lamanya
Menginjak, berjalan, bahkan berlari
Di sudut kota, ditengah ruang kelas, di pembaringan kost
Kiranya waktu enam bulan sangat sedikit
Untuk meraih setetes lagi pengalaman itu
Maka akupun harus mengejar lagi
Bait-bait yg bersusun rapi
Di perpustakaan, museum, pasar, alun-alun
Candi-candi, pantai, gua dan lembah, sungai, kebun
Di mana saja
Aku harus berlari, maraton
Sebelum pulang
Sebelum balik lagi tuk mengembara
Waktu ini cepat berlalu sayang…
Sedikit sekali yg akan aku bawa
Risau rasanya bila pengembaraanku tak berguna
Ma’afkan aku yang banyak menghabiskan waktu tuk bermain
Atau sekedar berdebat dengan pikiran dan perasaanku sendiri
Dan ego-ku yang kerap mengkhawatirkan
Atau kerap membuat orang2 yang ku sayang sedih
Ma’afkan aku atas semuanya
Bukan niat tuk menyesali
Ini hanya sebuah pernyataan
Atas kesadaran yang tak mengenal umur dan pendidikan
Enam bulan lagi sayang…
Aku kembali setelah lelah
Mondar-mandir di kota seru dan berbudaya ini
Aku resah tak bisa memberimu cahaya
Seperti yang banyak dinantikan kaum akar rumput itu
Aku gelisah tak bisa berdansa denganmu
seperti yang kurindukan semasa pohon-pohon nangka yg rindang
masih menjadi ruang sakralku mengkonsepsikan diriku
aku resah, gelisah, takut
tak bisa memberi apa-apa
tak meninggalkan apa-apa…
Ana, 14 Januari 2013


Senin, 07 Januari 2013

Aku dan Kau



Aku dan Kau
(refleksi atas klaim mengklain ‘benar sendiri’ di antara umat)
Kuceritakan engkau
malam ini kita telah sampai
di ujung ketidakpastian
engkau menjauh, semakin jauh
aku mendekat, semakin mendekat
bahkan hendak menuju jari-jari lentikmu
kau tak jua tau
karena prasangkamu mengalahkan aku
kuceritakan engkau
bahwa kita tak pernah sependapat
tentang realitas, tentang ide, tentang jiwa, tentang semua yg terpaut
engkau berbicara sendiri, terus berbicara tanpa mau mendengar
aku mendengar, terus mendengar tanpa berbicara
akhirnya tidak pernah bertemu
kembali kuceritakan engkau
akhir2 ini kita selalu berseteru
kau mengumpat, menggunjing, meng-klaim diri yg putih, yg benar.
tanpa kau sadari bahasa tak lahir dari ide-mu, melainkan dari kekesalanmu
sementara aku terus membalas umpatan bibirmu
terus membalas hingga kita lupa apa itu dialog
lupa apa itu musyawarah dan penyelesaiaan
akhirnya ketidakpastian menghadang
kuceritakan
sekali lagi kuceritakan
kita telah sampai pada kemunafikan
kita tak pernah merenung atau berpikir
kita tak pernah membaca dan mencatat
kita tak pernah melakukan apa-apa
kita hanya berbicara, mendengar, berseteru, meng-klaim diri
lalu kita hanyalah budak dari ketidaktahuan itu sendiri...

ana