Aku dan Kau
(refleksi atas klaim mengklain ‘benar sendiri’ di antara umat)
Kuceritakan engkau
malam ini kita telah sampai
di ujung ketidakpastian
engkau menjauh, semakin jauh
aku mendekat, semakin mendekat
bahkan hendak menuju jari-jari lentikmu
kau tak jua tau
karena prasangkamu mengalahkan aku
kuceritakan engkau
bahwa kita tak pernah sependapat
tentang realitas, tentang ide, tentang jiwa, tentang semua yg terpaut
engkau berbicara sendiri, terus berbicara tanpa mau mendengar
aku mendengar, terus mendengar tanpa berbicara
akhirnya tidak pernah bertemu
kembali kuceritakan engkau
akhir2 ini kita selalu berseteru
kau mengumpat, menggunjing, meng-klaim diri yg putih, yg benar.
tanpa kau sadari bahasa tak lahir dari ide-mu, melainkan dari kekesalanmu
sementara aku terus membalas umpatan bibirmu
terus membalas hingga kita lupa apa itu dialog
lupa apa itu musyawarah dan penyelesaiaan
akhirnya ketidakpastian menghadang
kuceritakan
sekali lagi kuceritakan
kita telah sampai pada kemunafikan
kita tak pernah merenung atau berpikir
kita tak pernah membaca dan mencatat
kita tak pernah melakukan apa-apa
kita hanya berbicara, mendengar, berseteru, meng-klaim diri
lalu kita hanyalah budak dari ketidaktahuan itu sendiri...
malam ini kita telah sampai
di ujung ketidakpastian
engkau menjauh, semakin jauh
aku mendekat, semakin mendekat
bahkan hendak menuju jari-jari lentikmu
kau tak jua tau
karena prasangkamu mengalahkan aku
kuceritakan engkau
bahwa kita tak pernah sependapat
tentang realitas, tentang ide, tentang jiwa, tentang semua yg terpaut
engkau berbicara sendiri, terus berbicara tanpa mau mendengar
aku mendengar, terus mendengar tanpa berbicara
akhirnya tidak pernah bertemu
kembali kuceritakan engkau
akhir2 ini kita selalu berseteru
kau mengumpat, menggunjing, meng-klaim diri yg putih, yg benar.
tanpa kau sadari bahasa tak lahir dari ide-mu, melainkan dari kekesalanmu
sementara aku terus membalas umpatan bibirmu
terus membalas hingga kita lupa apa itu dialog
lupa apa itu musyawarah dan penyelesaiaan
akhirnya ketidakpastian menghadang
kuceritakan
sekali lagi kuceritakan
kita telah sampai pada kemunafikan
kita tak pernah merenung atau berpikir
kita tak pernah membaca dan mencatat
kita tak pernah melakukan apa-apa
kita hanya berbicara, mendengar, berseteru, meng-klaim diri
lalu kita hanyalah budak dari ketidaktahuan itu sendiri...
ana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar