Selasa, 01 Januari 2013



TENTANG NETRALITAS PUSTAKAWAN
Menurut saya netralitas pustakawan adalah pilihan. Sama ketika seseorang memilih apakah ia akan mendukung suatu partai tertentu dengan argument yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, ataukah ia akan menolak partai tersebut dengan argument dan pertanggungjawaban yang jelas pula. Ataukah ia akan menolak semua partai (golput) dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan pula. Netralitas di sini bagi saya adalah hal yang sangat subjektif. Apalagi ketika orang tersebut dihadapkan pada pilihan yang saling “bertentangan” atau “berkesesuaian” dengan latarbelakang pendidikan, budaya, lokalitas, nilai agama, ataupun ideology pustakawan. Maka netralitas merupakan hal yang subjektif.
Seseorang akan mengatakan bahwa ia netral apabila netralitas tersebut sesuai dengan nilai-nilai atau prinsip yang ia bangun. Meskipun dalam hal ini ia menolak ataupun mengikut pada suatu kebijakan tertentu. Namun karena netralitas yang ia bangun didasarkan pada nilai-nilai yang ia miliki, maka ia akan menganggap bahwa ia telah bersikap netral. Sebagai contoh adalah ketika ada kasus di mana masyarakat dominan tidak menghendaki atau bersi keras menolak kaum homoseksual (Gay, lesbian, biseksual). Ketika masyarakat mayoritas menolak kehadiran homoseksual ini, maka informasi tentang homoseksual, dan terlebih lagi informasi (tulisan atau karya lain yang berasal dari kaum homoseksual) tersebut akan berkurang. Dalam hal ini mungkin saja pustakawan atau perpustakaan tidak mengijinkan adanya informasi mengenai homoseksual.
Dalam kasus ini bisa saya ambilkan contoh terhadap kasus Irsyad Manji (seorang tokoh feminis Kanada yang kebetulan lesbian) yang ditolak mengadakan diskusi diberbagai tempat di Indonesia pada sepanjang bulan juni 2012 ini. Kehadiran Irsyad manji ditentang oleh mayoritas masyarakat karena dianggap orientasi seksualnya menyimpang dan tidak sesuai dengan nilai mayoritas. Maka, bukan hanya kehadirannnya yang ditolak masyarakat, melainkan tulisan Irsyad Manji pun ditolak. Dalam hal ini bagaimana sikap pustakawan?
Tantangannya di sini adalah bagaimana pustakawan bersikap netral terhadap kondisi ini? bagaimana pustakawan harus menerima pilihan apakah ia akan tetap mengikuti mayoritas atau mengikuti tanggungjawab social dalam melindungi dan memberi akses karya tulisan kaum homoseksual tersebut.
Menurut saya, di sini pustakawan harus bisa mengambil pilihan yang dapat dipertanggungjawabkannya. Karena netralitas itu tidak berarti mengikuti suara mayoritas, atau tidak berarti menolak suara mayoritas dengan alasan kebebasan akses dan kebebasan intelektual. Netralitas seperti halnya yang diungkapkan Jensen, tidak hanya asal mengikuti semua keinginan mayoritas dan dan minoritas, atau hanya diam dan berkata “saya netral”. Bagi saya netralitas pustakawan harus mendasarkan pada nilai-nilai social yang dibangun secara universal. Namun nilai-nilai universal inipun berdasarkan pada nilai-nilai lokalitas yang menjadi pegangan masyarakat. Maka netralitas di sini menyesuaikan dengan keadaan dan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Bukan semata mengikuti dan menolak suara moyoritas. Maka, netralitas bagi saya sebenarnya bersifat subjektif dan merupakan pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar