TENTANG NETRALITAS PUSTAKAWAN
Menurut
saya netralitas pustakawan adalah pilihan. Sama ketika seseorang memilih apakah
ia akan mendukung suatu partai tertentu dengan argument yang jelas dan dapat
dipertanggungjawabkan, ataukah ia akan menolak partai tersebut dengan argument
dan pertanggungjawaban yang jelas pula. Ataukah ia akan menolak semua partai
(golput) dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan pula. Netralitas di sini
bagi saya adalah hal yang sangat subjektif. Apalagi ketika orang tersebut
dihadapkan pada pilihan yang saling “bertentangan” atau “berkesesuaian” dengan
latarbelakang pendidikan, budaya, lokalitas, nilai agama, ataupun ideology
pustakawan. Maka netralitas merupakan hal yang subjektif.
Seseorang
akan mengatakan bahwa ia netral apabila netralitas tersebut sesuai dengan
nilai-nilai atau prinsip yang ia bangun. Meskipun dalam hal ini ia menolak
ataupun mengikut pada suatu kebijakan tertentu. Namun karena netralitas yang ia
bangun didasarkan pada nilai-nilai yang ia miliki, maka ia akan menganggap
bahwa ia telah bersikap netral. Sebagai contoh adalah ketika ada kasus di mana
masyarakat dominan tidak menghendaki atau bersi keras menolak kaum homoseksual
(Gay, lesbian, biseksual). Ketika masyarakat mayoritas menolak kehadiran
homoseksual ini, maka informasi tentang homoseksual, dan terlebih lagi
informasi (tulisan atau karya lain yang berasal dari kaum homoseksual) tersebut
akan berkurang. Dalam hal ini mungkin saja pustakawan atau perpustakaan tidak
mengijinkan adanya informasi mengenai homoseksual.
Dalam
kasus ini bisa saya ambilkan contoh terhadap kasus Irsyad Manji (seorang tokoh
feminis Kanada yang kebetulan lesbian) yang ditolak mengadakan diskusi
diberbagai tempat di Indonesia pada sepanjang bulan juni 2012 ini. Kehadiran
Irsyad manji ditentang oleh mayoritas masyarakat karena dianggap orientasi
seksualnya menyimpang dan tidak sesuai dengan nilai mayoritas. Maka, bukan
hanya kehadirannnya yang ditolak masyarakat, melainkan tulisan Irsyad Manji pun
ditolak. Dalam hal ini bagaimana sikap pustakawan?
Tantangannya
di sini adalah bagaimana pustakawan bersikap netral terhadap kondisi ini?
bagaimana pustakawan harus menerima pilihan apakah ia akan tetap mengikuti
mayoritas atau mengikuti tanggungjawab social dalam melindungi dan memberi
akses karya tulisan kaum homoseksual tersebut.
Menurut
saya, di sini pustakawan harus bisa mengambil pilihan yang dapat dipertanggungjawabkannya.
Karena netralitas itu tidak berarti mengikuti suara mayoritas, atau tidak
berarti menolak suara mayoritas dengan alasan kebebasan akses dan kebebasan
intelektual. Netralitas seperti halnya yang diungkapkan Jensen, tidak hanya
asal mengikuti semua keinginan mayoritas dan dan minoritas, atau hanya diam dan
berkata “saya netral”. Bagi saya netralitas pustakawan harus mendasarkan pada
nilai-nilai social yang dibangun secara universal. Namun nilai-nilai universal
inipun berdasarkan pada nilai-nilai lokalitas yang menjadi pegangan masyarakat.
Maka netralitas di sini menyesuaikan dengan keadaan dan nilai-nilai kemanusiaan
secara universal. Bukan semata mengikuti dan menolak suara moyoritas. Maka, netralitas
bagi saya sebenarnya bersifat subjektif dan merupakan pilihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar