Pendapat Sandy Iverson (Pustakawan
dan Penolakan)
Artikel yg saya analisis ini ada di
buku Questioning library neutrality essays from progressive librarian, edited by Alison Lewis (Library Juice Press, Duluth, Minnesota: 2008)
Sebagai petugas
pustakawan yang tetap menghendaki netralitas dalam memberikan akses informasi
secara adil, pustakawan cenderung menolak politik sebagai bagian dari kehidupan
dalam menjalankan peran pustakawan. Pustakawan cenderung
melihat diri mereka sebagai penyedia layanan yang netral, menolak setiap sikap
politik yang mungkin dihadapkan. Hal ini mendorong pustakawan untuk hanyut pada
kekuatan politik dan ekonomi yang berkembang dalam suatu masyarakat.
Sementara
pustakawan dilatih untuk mempertahankan sikap objektif atau netral mereka juga
diharapkan untuk membuat keputusan tentang "baik" dan
"buruk" bahan (koleksi). Pustakawan sering dilihat sebagai
"ahli" dalam menentukan literatur dan sumber daya lain yang klien
mereka butuhkan. Sayangnya, mereka tidak sering mengenali bias yang melekat di
tempat kerja dalam membuat keputusan ini, Pustakawan umumnya menganggap
pemilihan bahan sebagai apolitis.
Menurut Iverson, dalam
hal ini ia juga sependapat dengan Jensen bahwa ia menginginkan pustakawan
melihat dengan teliti praktek-praktek politik masyarakat, dan mengambil peran
penting untuk bermain. Namun Iverson berpendapat bahwa pustakawan boleh bermain
dalam politik asalkan hal itu tidak mendukung mereka bertindak dalam
"kolusi dengan kekuatan-kekuatan yang melanggengkan kelemahan"
(Harris, hal.75) tetapi untuk mendefinisikan kembali peran mereka untuk
membantu dalam pembentukan masyarakat yang benar-benar adil. Untuk melakukan
ini Iverson akan mendesak pustakawan dan pendidik pustakawan untuk mulai
mempertanyakan "metanarasi" kepustakawanan yang dibangun.
Iverson
menilai bahwa netralitas kepustakawanan itu memiliki batasan-batasan yang akan
mengantarkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih adil, meskipun melalui
peran politik yang dimainkan. Tentu catatannya adalah peran yang dimainkan
harus sesui dengan prinsip kepustakawanan yang dibangun yaitu memberikan akses
informasi yang sama tanpa membedakan atau tanpa mengikuti elit dominan dalam
masyarakat. Lebih dari itu Iverson berpendapat bahwa objektivitas pustakawan
harus mampu menilai mana informasi yang “salah” atau menyesatkan sehingga menimbulkan
konflik, dan mana yang baik atau menguntungkan sehingga menambak keadilan
masyarakat.
Sebagai
contoh adalah Informasi yang cenderung rasis.
sebisanya pustakawan menyensor
informasi tersebut agar tidak terjadi sikap rasis yang lebih dalam di masyarakat.
Pustakawan perlu memiliki sikap politis di dalam mengambil kebijakan terhadap
peran yang dimainkannya.
Peran
informasi dalam masyarakat kita menjadi semakin sentral dan seperti halnya
banyak pertanyaan yang perlu dinaikkan. Jika kita menerima informasi yang
terhubung ke pengetahuan dan pengetahuan untuk kekuasaan, kita harus memeriksa
koneksi antara kekuasaan dan informasi dalam masyarakat postmodern kita. Apa
implikasi bagi peningkatan akses ke informasi oleh segmen dominan dari
masyarakat? Pustakawan dilatih dalam manipulasi ahli informasi dengan menguasai
teknologi terhubung dengan penyebaran, produksi, dan pengambilan informasi.
Namun, apa implikasi bagi masyarakat untuk tidak mempertanyakan apa jenis
informasi yang dapat diakses dan apa jenis yang tidak, dan yang memiliki akses
mudah?.
Dalam
hal ini Iverson berpendapat bahwa objektivitas itu harus dinilai apakah
informasi itu berkaitan dengan kekuasaan, dan apakah kekuasaan itu
menguntungkan masyarakat atau malah sebaliknya?. Jika informasi tersebut
bernilai baik bagi masyarakat, maka penolakan terhadap sikap politis bisa
menjadi hambatan dalam mencapai peran pustakawan dalam menyampaikan informasi.
Maka, menurut Iverson, perlu pemahaman tentang hubungan informasi dengan
kekuasaan, dan di sinilah pustakawan bisa mengambil sikap apakah ia akan
menolak atau akan bersikap politis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar