Surat buat mama
Mama…
Tak
pernah terpikirkan sebelumnya bahwa aku akan terlampau jauh sekarang
Mengais
secuil makna hidup yg kerap kau ajarkan sepanjang kubernafas
Menggapai
apa yang kusebut ‘asa’ dan ‘doa’
Lalu
kusematkan pada dinding-dinding ruang kosong,
dilubuk hatiku
Ma..Orang
bilang anakmu ini belum dewasa
Selalu
saja berkeluh disaat setitik masalah menerpa
Selalu
saja ingin terhibur saat sepi menyapa
Selalu
saja menangis seperti waktu kau gendong aku saat haus
Yaah
ma…
Yang
dibilang org itu benar
Kau
ingat bukan? Saat aku sempat pulang dulu
Bila
aku lelah sedikit saja, aku merengek meminta dipijat
Bila
aku tersinggung barang secuilpun aku mengadu meminta didengar
Bila
aku merasa dihina seujung kuku saja aku menangis mendekap memintamu memarahinya
Kaupun
pasti masih ingat saat ku pulang untuk kedua kalinya
Kuceritakan
semua pahitku di rantau ini, tanpa menceritakan manisnya
Kubuat
kau terharu dan menangis
Kupaksa
kau untuk selalu mendoakanku
Walau
kutahu kau tak jemu-jemunya setiap waktu mendoakanku
Aah
mama….kau pasti ingat bukan? Tentang kemanjaan anakmu, tentang kerapuhan anakmu
tanpamu…
Mama…
Kembali
ku mengenang
Kau
masih ingat bukan? Saat aku pulang puasa kemarin
Aku
selalu memaksamu menyuguhi semua makanan yang aku mau
Aku
selalu meminta barang-barang yang aku suka
Tanpa
memperhatikan dari mana engkau akan mendapatkannya
Kau pun
masih ingat bukan?
Saat
aku mengomel bahwa selama empat tahun dirantau aku baru pulang tiga kali
Tanpa
pernah mau tau bahwa disetiap saat, disetiap ruang yang kau tempati
Mungkin
kau mengeluh, menekan sabarmu karna merindukanku
Ah
mama… anakmu masih saja seperti dulu
Egois
dan banyak tingkahnya
Mama…
Aku
sadari semua itu sebagai suatu kekeliruan
Hingga
pada suatu nanti kekeliruan itu kubawa sebagai saksi atas keegoisanku
Karena
itu, sebelum aku sampai pada penyesalan
Ajari
aku mendoakanmu
Ajari
aku bagaimana menghargaimu
Ajari
aku bagaimana menyusun tulus seperti uraian air mata yang tak hentinya kau
teteskan kala berdoa
Ajari
aku mama..
Bagaimana
kasihmu membawa hasrat adil bagi semua anak-anakmu
Ajari
aku ma
Bagaimana
peluhmu menuntun hasrat bersyukur atas jerih payah yang tulus
Ajari
aku ma..
Bagaimana
bersikap adil kepada sesama, kepada siapa saja
Ajari
aku bagaimana melawan penindasan
Agar
aku tak menindasmu karena pembangkanganku
Mama…
Cukup
panjang kiranya ceritaku
Kau tau
kan maa
Aku
hanya bisa mencoret-coret dalam ruang bebas nan kasar
Seperti
kau mencoret hanya dalam pikiran yg tertekan
Hanya
dalam langit-langit jiwa yang kelam
Atau
dalam guratan senja yang temaram, yang tenggelam
Dalam
tangisku yg bersedu, semua bayangmu menganga
Sungguh
aku merindukanmu ma…
Mama…
Walau
kusadari aku belum dewasa dalam umur yang tak lagi kekanak-kanakan
Aku
masih ingin bercerita.. kali ini tentang perasaanku…yang mungkin kau tak pernah
tau
Ma…Suatu
kali aku melangkah menyusuri keheningan senja
Hendak
mencari ketenangan setelah ku tahu aku rapuh dan kecewa
Aku
terus melangkah, sampai senja temaran dan tenggelam
Waktu
itu aku menangis untuk kesekian juta kali maa
Ia yang
menghampiriku saat ini, membelaiku dengan manja
Mendustaiku
dan membodohiku…
Ah
mama…
Di
sini, ditempatku yang jauh darimu
Aku tak
punya siapa-siapa tempat mengadu
Tak
bermaksud melupakan Tuhan kita
Hanya
saja aku tak punya tempat bercerita yang langsung mengerti dengan tatapannya
Maka…aku
menulis ma
Menulis
dalam bentuk yang tak sebaik tulisan temanku Felita apalagi pujangga
Ahhh
ma..betapa anakmu ini ingin seperti Pramoedya
Betapa
anakmu ini ingin seperti Soe-Hok-Gie
Seperti
Gusdur
Seperti
Fatima Mernisi
Seperti
Rifat Hasan dan Amina Wadud
Betapa
anakmu ini ingin seperti mereka
Mereka
yang berhasil menanam ‘humanism’ disetiap tulisannya
Pasti
ibu mereka sangat bahagia kan ma?
Oooh
maafkan anakmu
Aku tau
kau tak menginginkan apa-apa dariku
Kecuali
senyumku….
Maa….
Aku merindukanmu
Hana
(20 Desember 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar