Selasa, 25 Desember 2012

Surat buat mama



Surat buat mama 
Mama…                                                               
Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa aku akan terlampau jauh sekarang
Mengais secuil makna hidup yg kerap kau ajarkan sepanjang kubernafas
Menggapai apa yang kusebut ‘asa’ dan ‘doa’
Lalu kusematkan pada dinding-dinding ruang  kosong, dilubuk hatiku
Ma..Orang bilang anakmu ini belum dewasa
Selalu saja berkeluh disaat setitik masalah menerpa
Selalu saja ingin terhibur saat sepi menyapa
Selalu saja menangis seperti waktu kau gendong aku saat haus
Yaah ma…
Yang dibilang org itu benar
Kau ingat bukan? Saat aku sempat pulang dulu
Bila aku lelah sedikit saja, aku merengek meminta dipijat
Bila aku tersinggung barang secuilpun aku mengadu meminta didengar
Bila aku merasa dihina seujung kuku saja aku menangis mendekap memintamu memarahinya
Kaupun pasti masih ingat saat ku pulang untuk kedua kalinya
Kuceritakan semua pahitku di rantau ini, tanpa menceritakan manisnya
Kubuat kau terharu dan menangis
Kupaksa kau untuk selalu mendoakanku
Walau kutahu kau tak jemu-jemunya setiap waktu mendoakanku
Aah mama….kau pasti ingat bukan? Tentang kemanjaan anakmu, tentang kerapuhan anakmu tanpamu…
Mama…
Kembali ku mengenang
Kau masih ingat bukan? Saat aku pulang puasa kemarin
Aku selalu memaksamu menyuguhi semua makanan yang aku mau
Aku selalu meminta barang-barang yang aku suka
Tanpa memperhatikan dari mana engkau akan mendapatkannya
Kau pun masih ingat bukan?
Saat aku mengomel bahwa selama empat tahun dirantau aku baru pulang tiga kali
Tanpa pernah mau tau bahwa disetiap saat, disetiap ruang yang kau tempati
Mungkin kau mengeluh, menekan sabarmu karna merindukanku
Ah mama… anakmu masih saja seperti dulu
Egois dan banyak tingkahnya
Mama…
Aku sadari semua itu sebagai suatu kekeliruan
Hingga pada suatu nanti kekeliruan itu kubawa sebagai saksi atas keegoisanku
Karena itu, sebelum aku sampai pada penyesalan
Ajari aku mendoakanmu
Ajari aku bagaimana menghargaimu
Ajari aku bagaimana menyusun tulus seperti uraian air mata yang tak hentinya kau teteskan kala berdoa
Ajari aku mama..
Bagaimana kasihmu membawa hasrat adil bagi semua anak-anakmu
Ajari aku ma
Bagaimana peluhmu menuntun hasrat bersyukur atas jerih payah yang tulus
Ajari aku ma..
Bagaimana bersikap adil kepada sesama, kepada siapa saja
Ajari aku bagaimana melawan penindasan
Agar aku tak menindasmu karena pembangkanganku
Mama…
Cukup panjang kiranya ceritaku
Kau tau kan maa
Aku hanya bisa mencoret-coret dalam ruang bebas nan kasar
Seperti kau mencoret hanya dalam pikiran yg tertekan
Hanya dalam langit-langit jiwa yang kelam
Atau dalam guratan senja yang temaram, yang tenggelam
Dalam tangisku yg bersedu, semua bayangmu menganga
Sungguh aku merindukanmu ma…
Mama…
Walau kusadari aku belum dewasa dalam umur yang tak lagi kekanak-kanakan
Aku masih ingin bercerita.. kali ini tentang perasaanku…yang mungkin kau tak pernah tau
Ma…Suatu kali aku melangkah menyusuri keheningan senja
Hendak mencari ketenangan setelah ku tahu aku rapuh dan kecewa
Aku terus melangkah, sampai senja temaran dan tenggelam
Waktu itu aku menangis untuk kesekian juta kali maa
Ia yang menghampiriku saat ini, membelaiku dengan manja
Mendustaiku dan membodohiku…
Ah mama…
Di sini, ditempatku yang jauh darimu
Aku tak punya siapa-siapa tempat mengadu
Tak bermaksud melupakan Tuhan kita
Hanya saja aku tak punya tempat bercerita yang langsung mengerti dengan tatapannya
Maka…aku menulis ma
Menulis dalam bentuk yang tak sebaik tulisan temanku Felita apalagi pujangga
Ahhh ma..betapa anakmu ini ingin seperti Pramoedya
Betapa anakmu ini ingin seperti Soe-Hok-Gie
Seperti Gusdur
Seperti Fatima Mernisi
Seperti Rifat Hasan dan Amina Wadud
Betapa anakmu ini ingin seperti mereka
Mereka yang berhasil menanam ‘humanism’ disetiap tulisannya
Pasti ibu mereka sangat bahagia kan ma?
Oooh maafkan anakmu
Aku tau kau tak menginginkan apa-apa dariku
Kecuali senyumku….
Maa…. Aku merindukanmu

Hana (20 Desember 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar