KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN
KEPUSTAKAAN ISLAM PERIODE KLASIK[1]
A. Pendahuluan
Periode
Islam klasik dimulai dari masa Rasulullah saw, khulafa’u ar-rasyidin, daulah
Umayyah dan daulah Abbasiyah. Pada masa-masa tersebut istilah kepustakaan
(berasal dari pustaka) yang kemudian disisipkan awalan dan akhiran ke-an adalah
lebih mengacu kepada buku, literatur, atau koleksi buku. Sementara istilah
perpustakaan (berasal juga dari kata pustaka) seperti pengertian yang sering
diungkapkan sekarang ‘sebagai sebuah gedung atau ruangan tempat menyimpan buku,
koleksi atau karya rekam lainnya yang kemudian dikelola menurut tata dan
susunan tertentu dan dilayankan kepada pengguna’[2]
tidak digunakan pada masa Islam Klasik. Pengertian kepustakaan sebagai buku
atau koleksi buku lebih relevan sesuai dengan kegiatan perpustakaan waktu itu.
Pengertian
pertama lebih cocok karena pada masa Islam klasik kegiatan kepustakaan lebih
mengarah pada kegiatan penulisan, penyalinan, dan penterjemahan yang selanjutnya
menjadi koleksi perpustakaan. Hal ini berlangsung hingga masa Abbasiyah. Karena
itu, dalam tulisan ini akan diarahkan kepada pengertian pertama, yaitu
kepustakaan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan buku atau koleksi buku.
B. Asal
usul dan perkembangan kepustakaan Islam
Secara
historis, munculnya kepustakaan Islam berawal dari tradisi keagamaan dan
keilmuan. Indikasi yang bisa menjelaskan tentang awal munculnya kepustakaan
Islam adalah ditulisnya wahyu al-Qur’an oleh para sahabat yang bisa baca-tulis
seperti Zaid bin Tsabit dan secara tidak bersamaan ditulis pula al-Hadits dari
Rasulullah saw. penulisan wahyu al-Qur’an dilakukan pada kayu, perkamen,lontar,[3]
pelepah kurma, tulang, lempung, batu, dan benda lainnya[4]. Wahyu tersebut kemudian tersimpan di beberapa
tempat seperti di rumah Nabi, di masjid, dan di rumah sahabat Nabi. Berkaitan
dengan penyimpanan al-Qur’an di masjid ini menjadi indikasi bahwa perpustakaan pertama yang muncul dalam
Islam adalah perpustakaan masjid. Hal ini disebabkan bahwa masjid, selain
sebagai tempat penyimpanan al-Qur’an juga sebagai tempat pembelajaran dan tidak
ada pembelajaran tanpa buku. Karena itu, menurut Hamada, perpustakaan pertama
dalam masyarakat Islam adalah perpustakaan masjid.[5]
Tradisi
keagamaan dan keilmuan yang menjadi landasan kemunculan kepustakaan dalam
konteks Islam didorong oleh ajaran agama (Islam) baik itu yang datang dari
al-Qur’an maupun al-Hadits tentang hal-hal yang berkaitan dengan keilmuan
seperti kemuliaan ilmu dan orang yang berilmu[6]
dan pentingnya membaca dan menulis[7].
Dengan
melihat keutamaan ilmu sebagaimana dijelaskan al-Qur’an, maka dalam riwayat
seperti yang penulis kutip dari buku Shirah Nabawiyah Lengkap Nabi Muhammad saw
( an-Nadwi, 2001: 262) bahwa Rasulullah saw memberikan pengampunan kepada para
tawanan dan menerima tebusan dari mereka sesuai dengan kemampuan harta yang
mereka miliki. Tawanan yang tidak memiliki apa-apa dibebaskan oleh Rasulullah
saw tanpa membayar uang tebusan pembebasan tawanan. Di antara para tawanan
terdapat orang-orang yang tidak memiliki uang tebusan. Maka Rasulullah saw
menjadikan tebusan mereka dalam bentuk mengajarkan baca tulis kepada anakanak
keluarga kaum Anshar. Setiap satu tawanan diwajibkan mengajari sepuluh anak.
Zaid bin Sabit termasuk orang yang belajar melalui cara tersebut di atas. Hal
ini jelas merupakan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan dan dorongan untuk
pandai membaca dan menulis.
Islam
dengan segala kesempurnaan akan nilai-nilai ajarannya sangatlah menghargai ilmu
pengetahuan dan menuntun para penganutnya untuk terus dan terus membaca dan
menulis. Pembuktian ayat 1-5 surat al-‘Alaq dalam kancah keilmuan dunia tidak
bisa dibantahkan baik secara empiris maupun historis. Maka banyak orang non
muslim maupun muslim sendiri merasa aneh dengan wahyu pertama ini. Keanehan
yang meminta perhatian para ahli filsafat (filosuf), para pemikir di dunia,
para ahli sejarah agama dan kehidupan ilmiah, adalah penyebutan “qalam”
(pena) pada wahyu yang pertama ini. Padahal wahyu tersebut diturunkan kepada
seorang ummi (tidak bisa baca tulis), yang diutus untuk kaum yang ummi
pula. Suatu kaum yang hidup di negeri yang di sana sulit ditemukan qalam
(pena). Sementara jumlah para penulis (mereka sekaligus merupakan para
pelajar) juga tidak banyak. Hal itu menunjukkan hubungan agama ini (Islam) dengan
umat yang menganutnya, serta dengan kewajiban membaca, menulis dan peranan
pena, dalam hubungan yang kuat dan abadi. Hal itu berbeda dengan agama-agama
sebelumnya. Inilah rahasia munculnya gerakan ilmiah dan kepengarangan secara
internasional, yang tidak akan ada tandingannya dalam sejarah agama-agama dan
bangsa-bangsa. Itulah maksud dari ayat: “yang mengajarkan manusia apa yang
tidak diketahuinya.”[8].
Dalam wahyu ini ada dorongan untuk meluaskan cakrawala keilmuan, menutup
kebodohan, mendekatkan kepada perkembangan yang baru, dan menghilangkan
pengingkaran terhadap fakta-fakta ilmiah yang kuat yang tidak tertutupi dalam
realitas masa lalu.[9]
Perlu
sedikit dijelaskan di sini bahwa ayat ini turun bukan pada kaum yang ummi dalam
artian tidak bisa baca tulis. Karena tidak ada fakta historis yang mengatakan
kaum tempat turunnya ayat ini adalah kaum yang tidak bisa membaca dan menulis.
Sebaliknya banyak literatur yang menjelaskan bahwa kaum Muhammad saw pada waktu
itu sudah pandai membaca dan menulis, hanya saja mereka dikatakan jahiliyah
karena bobroknya kelakuan mereka terhadap sesamanya. Bukan ummi yang diartikan
tidak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi keanehan yang dialami oleh para
filosuf, pemikir dan ilmuan lainnya tersebut merupakan suatu bukti akan
kebenaran ajaran Islam yang dibawakan Nabi saw bahwa budaya membaca menjadi hal
yang sangat urgen untuk keberlangsungan Islam dan peradaban Islam secara umum.
Kebenaran
akan hal ini juga bisa dilihat pada pada masa-masa Muawiyah dan Abbasiyah.
Bagaimana Islam tersebar dan bagaimana ilmu pengetahuan mendunia dan menjadi
kiblat pada masa itu. Buku buku atau karya-karya tokoh dan imam besar meluas
dan bahkan hingga kini bisa kita rasakan. Para tokoh dan imam besar seperti
Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Farabi, al- Kindi, al-Jabar, imam Ghazali, Syafi’i,
Maliki, Hambali, Hanafi dan lain-lain sering sekali kita dengar oleh karena
ilmunya yang meluas.
Ada
aspek yang tidak bisa dihilangkan di sini bahwa antara ajaran agama (Islam)
yang dianut para tokoh ini dan ilmu pengetahuan yang disebarluaskannya
merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Mereka mengambil
ajaran-ajaran dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari
sehingga pada akhirnya pergulatannya dengan ajaran dan realitas yang dihadapi
menuai ilmu yang dikarangnya[10]. Dari
sinilah muncul dan berkembang perpustakaan sebagai pusat pendidikan dalam Islam.
Hal ini diceritakan dalam buku karangan Mehdi Nakosteen[11]
bahwa semua muslim, baik kaya maupun miskin, Persia atau Arab dan tua atau
muda, tanpa memandang status dan keturunan memang telah menunjukkan
penghormatan yang besar kepada cendekiawan. Namun tetap lebih besar
penghormatan mereka terhadap karya-karya ilmu pengetahuan atau masterpies yang
berkenaan dengan kesusastraan. Kepadanya sekaligus, ketika buku-buku disalin
dengan tulisan tangan oleh para penyalin khusus, kesetiaan kepada bukubuku terkenal,
nyaris sama dengan kesetiaannya terhadap religiusitas, hal-hal yang bersifat
mistik. Cintanya Muhyiddin Ibnul Arabi menyatakan dalam Mahadurat al- Abrar,
bahwa sebuah buku terkenal tentang sejarah atau bersifat ilmiah, mengungkapkan
kebijakan pemikiran yang sangat bagus, ditopang oleh tradisi masa lalu dan
menunjukkan hasil-hasil pikiran yang logis dari banyak negeri yang jauh, adalah
sungguh sesuatu yang berharga, namun dengan mudah dan murah dapat diperoleh
jika dibandingkan dengan barang-barang lainnya. Al-Arabi, dalam sumber yang
dikutip tersebut di atas, membandingkan sebuah buku dengan sebuah kebun buah-buahan
dan kebun raya, sebuah (penyambung) lidah bagi orang yang mati, juru bicara
bagi orang yang hidup-“Seorang tamu sore hari yang tidak pernah tidur hingga anda
tidur dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali apa yang menyenangkan Anda,
dan tidak pernah membuka rahasia. Ia adalah tetangga yang paling setia, teman yang
pantas (adil), rekan yang patuh, guru yang rendah hati, teman yang ahli dan bermanfaat,
tidak suka membantah atau menjenuhkan”. Hingga masa itu, tidak mengherankan
bahwa dengan sikap takzim kepada buku-buku tersebut, maka
perpustakaan-perpustakaan Muslim-dan sebelumnya oleh orang Persia-menjadi
pusat-pusat ilmu pengetahuan dimanapun perpustakaan-perpustakaan tersebut
didirikan. Sebenarnya beberapa sekolah tinggi Muslim awal , seperti Akademi Baitul
Hikmah, di Bagdad, semula adalah perpustakaan yang pada masa itu berkembang
menjadi perguruan tinggi. Syalaby seperti yang dikutip Mehdi Nakosteen
melaporkan, bahwa perpustakaan-perpustakaan semacam Khazanah al- Hikmah
(gudang kebijaksanaan) al-Munajjin (888, 275 H) dan lain-lain di Mosul dan Basrah,
telah didirikan oleh pelanggannya sebagai pusat atau digabung dengan pusatpusat
belajar, terbuka untuk masyarakat dari jauh dan dekat.
C. Kepustakaan
Islam masa Nabi dan khulafa’u ar-rasyidin
Pada
masa khulafa’u ar-rasyidin, kepustakaan Islam masih berupa pengembangan tradisi
penulisan. Dengan munculnya al-Qur’an dan Hadits Nabi yang berlangsung pada
masa Nabi, maka muncullah dorongan untuk menulis dan mengumpulkan kedua sumber
ajaran tersebut menjadi sebuah tulisan.
Pada
masa Nabi Muhammad s.a.w. wahyu al-Quran itu telah mulai ditulis, meskipun
tulisannya masih berserakan (belum tersusun). Pelapah kurma, kulit-kulit
binatang yang halus dan batu-batu/tulang-tulang menajdi wadah/tempat dimana
al-Quran ditulis pada masa tersebut. Tradisi penulisan ini sendiri bardasarkan
perintah Nabi Muhammad s.a.w. agar menuliskan al-Quran. Ini adalah tahap pertama
tradisi penulisan dalam Islam. Pada masa pra Islam, masyarakat Jahiliyah belum
menjadikannya sebagai tradisi. Akan tetapi ini tidak bererti bahwa tradisi
tulisan tidak ada sama sekali pada masa pra Islam (Jahilihah). Bangsa ‘Arab
kuno, seperti Arab Selatan telah meninggalkan bangunan-bangunan peradaban dan
tradisi bangsa Arab yang sebagiannya tertulis di batu-batu nisan, prasasti
dll.
Maka
dibentuklah kepanitiaan penulisan wahyu dibawah pimpinan Sahabat Zaid Bin
Thabit r.a.Setelah Abu Bakar wafat, mushaf itu disimpan oleh Khalifah Umar pada
putrinya Hafsah. Pada masa Khalifah Uthman Bin ‘Affan, mushaf yang ada ditangan
putri Amir al-Mu’minin Umar Bin Khattab tersebut disimpan kemudian
disebar-luaskan ke wilayah-wilayah Islam yang sudah tersebar-luas, khususnya
Hijaz (Mekah-Madinah), Iraq, Mesir, dan Shiria. Sebelum menyebarkan mushaf
tersebut, beliau memberlakukan satu peraturan agar bacaan al-Quran mengikuti
satu mushaf yang diakui secara resmi, yaitu Mushaf Khalifah Uthman yang disebut
sebagai Mushaf al-Imam. Ini dilakukan karena banyak dan beragamnya
bacaan al-Quran pada masa Khalifah Uthman akibat perluasan wilayah dan
beragamnya dialek suku Arab dan etnis luar Arab yang memeluk Islam dalam
pembacaan al-Quran, sehingga muncul Qiraah Sab’ah (Bacaan al-Quran berdasarkan
tujuh versi). al-Quran yang sampai kepada kita sekarang juga mushaf Uthmani.
D.
Kepustakaan
Islam periode daulah Umayyah
Perkembangan
seni produksi yang tak ada duanya dalam Islam disebabkan karena ketertarikan
para hartawannya yang penuh semangat terhadap buku. Dunia ilmu telah menikmati
kedudukan yang sedemikian tinggi, sehingga wajarlah jika orang-orang yang mampu
ikut mengambil bagian dan mengusahakan kemajuannya. Banyak penulis menaruh
kepentingannya kepada para pembesar untuk ikut andil dalam mendirikan dan
mengembangkan perpustakaan. Al-Qalqasyandi mengatakan bahwa ada tiga
perpustakaan besar dalam Islam; perpustakaan ‘Abbasiyah di Bagdad’,
perpustakaan Fathimiyah di Kairo, dan perpustakaan Umayyah di Kordoba.[12]
Masa
Umayyah adalah masa perkembangan awal kepustakaan Islam. Kegiatan yang menandai
perkembangan kepustakaan ini adalah kegiatan penerjemahan. Setelah umat Islam berkenalan dengan
kertas maka perpustakaan dalam Islam mulai didirikan oleh orang-orang kaya,
kalangan bangsawan dan di istana-istana para penguasa. Karena Al Qur’an
mengharuskan individu-individu untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan
menyediakan kekayaan yang dimilikinya bagi orang lain yang kurang beruntung,
maka para hartawan membiayai pembangunan perpustakaan dan seringkali membukanya
untuk para ilmuwan dan kadang-kadang untuk umum.
Menurut para ahli, perpustakaan pertama dalam Islam adalah
perpustakaan pribadi yaitu perpustakaan Khalid ibnu Yazid bin Muawiyah (w. 704)
ia seorang sastrawan dan kolektor buku. Perpustakaan ini lahir pada masa
pemerintahan dinasti Ummayah (661-750 M) yaitu suatu dinasti Islam setelah
pemerintahan khulafa’u ar-raysyidin. Dinasti ini telah melakukan beberapa
perubahan bukan saja dalam system pemerintahan tetapi juga dalam bidang
peradaban terutama kehidupan ilmu dan akal. Adapun yang mendorong Yazid untuk
mendirikan perpustakaan adalah untuk menghibur diri setelah kecewa karena tidak
mendapatkan kekhalifahan.[13]
Pada masa Umayyah inilah dimulainya gerakan penerjemahan berbagai
literature dari Yunani. Khalid bin Yazid bin Muawiyah memiliki perpustakaan
pribadi yang dalam kegiatan penerjemahan sebagai koleksi perpustakaannya
melibatkan ilmuan-ilmuan untuk menulis karya-karya tentang berbagai jenis
subjek untuk perpustakaan istananya tersebut dan juga dikenal telah memelihara
tafsir al-Qur’an yang ditulis Said bin Jubair. Usaha ilmiah ini menghasilkan
pendirian perpustakaan istana umayyah di Damascus sekitar tahun 700. Meskipun
sedikit dikenal mengenai organisasinya, perpustakaan ini diduga berisi
terjemahan-terjemahan dari naskah-naskah Yunani dan peribadatan Kristen
(Coptic), ilmuan Kristen yang berfungsi sebagai penerjemah. Segera setelah itu,
aktivitas intelektual ini telah dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720
M).[14]
E.
Kepustakaan
Islam Periode Daulah Abbasiyah
Pada
periode dinasti Abbasiyah perpustakaan memperlihatkan perkembangan yang
menggembirakan. Hal ini terlihat setelah khalifah al Mansur (754-775) khalifah
ke dua dari dinasti Abbasiyah mendirikan biro penerjemahan di Baghdad. Kemudian
pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid lembaga ini bernama khizanah al hikmah
(khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat
penelitian).. Pada perpustakaan ini banyak tersimpan buku-buku berbahasa asing
yang telah diterjemahan kedalam bahasa Aeab seperti dari bahasa Yunani, Parsi,
Syiriac dan Sanskrit, dan terdaftar dalam katalog bernama Fibrist karya Ibn Al
Nadim dan Kasyif karya Haji khalifah.
Pada tahun 815 al Ma’mun mengembangkan lembaga ini dan merubah namanya dengan bayt-al-Hikmah. Perpustakaan ini menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Koleksi buku Perpustakaan Bagdad berjumlah 400 hingga 500 ribu jilid. Menurut riwayat, khalifah Al Makmun Al Rasyid, telah memperkerjakan cendekiawan-cendekiawan terkenal pada perpustakaan ini diantanya yaitui Al Kindi -filosof-, untuk menerjemahkan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab. Al Kindi sendiri menulis hampir tiga ratus buku tentang masalah-maslah kedokteran, filsafat sampai musik yang disimpan di Bayt Al-hikmah. Musa Alkhawarizmi, matematikawan ternama dan penemu aljabar juga bekerja di tempat ini dan menulis buku terkenalnya kitab Al-jabr wa’al-muqabilah.
Pada tahun 815 al Ma’mun mengembangkan lembaga ini dan merubah namanya dengan bayt-al-Hikmah. Perpustakaan ini menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Koleksi buku Perpustakaan Bagdad berjumlah 400 hingga 500 ribu jilid. Menurut riwayat, khalifah Al Makmun Al Rasyid, telah memperkerjakan cendekiawan-cendekiawan terkenal pada perpustakaan ini diantanya yaitui Al Kindi -filosof-, untuk menerjemahkan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab. Al Kindi sendiri menulis hampir tiga ratus buku tentang masalah-maslah kedokteran, filsafat sampai musik yang disimpan di Bayt Al-hikmah. Musa Alkhawarizmi, matematikawan ternama dan penemu aljabar juga bekerja di tempat ini dan menulis buku terkenalnya kitab Al-jabr wa’al-muqabilah.
Perpustakaan
bayt al-Hikmah adalah perpustakaan pertama terbesar dalam Islam. Pada
perpustakaan ini para ulama dan intelektual melakukan berbagai aktifitasnya.
Begitu juga mahasiswa-mahasiswa Islam, berdatangan ke perpustakaan tersebut
untuk memperluas dan mendalami berbagai jenis ilmu pengetahuan, seperti,.
Mendalami Al-Qur’an, kesusasteraan dan filsafat astronomi, tata bahasa,
lexicography dan obat-obatan. Ruang perpustakaan tersebut diperindah dengan
karpet sedang seluruh pintu dan koridornya berkorden. Para manager, pegawai,
portir (penjaga pintu) dan pekerja kasar lainnya ditunjuk untuk memelihara
keberadaan Baitul Hikmah Menurut Al-Maqrizi anggaran pemeliharaan mencapai 257
dinar pertahun guna untuk kelengkapan permadani, kertas, gaji pegawai, air,
tinta dan pena, perbaikan-perbaikan dan sebagainya. Kertas, pena dan tinta
disediakan cuma-cuma bagi para siswa yang diambilkan dari hasil wakaf dan para
dermawan. Ibnu Al Furat ( W. 924 M) mengatakan bahwa pada masa-masa terakhir
jabatannya ia memikirkan murid-muridnya. Katanya “Barangkali mereka tidak mampu
mengeluarkan uang sebesar satu sen-pun atau bahkan kurang dari itu untuk
membeli tinta dan kertas, maka sudah menjadi kewajiban saya membantu dan
menyediakannya”. Dan untuk ini ia mengeluarkan 20.000 dirham dari dompetnya
sendiri.[15]
Perpustakaan
lain yang tak kalah besarnya pada masa ini adalah perpustakaan di Madrasah
Nizamiah yang didirikan pada 1065 M oleh Nizam Al Mulk. Ia adalah seorang
perdana mentri dalam pemerintahan Saljuq.. Koleksi di perpustakaan ini
diperoleh sebagian besar melalui sumbangan, sebagaimana yang disebutkan oleh
Ibn Al-Atsir (sejarawan) bahwa Muhib Al-Din ibn Al-Najjar Albaghdadi mewariskan
dua koleksi besar pribadinya kepada perpustakaan ini.dan Khalifah Al-Nashir juga
menyumbangkan beribu-ribu buku dari koleksi kerajaannya kepada perpustakaan
tersebut. Karyawan dan pustakawan-pustakawan diberi gaji yang besar. Hal ini
bukan hanya terjadi di perpustakaan Nizamiah saja. Akan tetapi hampir di
seluruh perpustakaan zaman tersebut. Bahkan Al Nadim memaparkan adanya
tanda-tanda keirihatian dari para pustakawan –khususnya pustakawan Bayt Al
Hikmah, sebab mereka memiliki kedudukan yang tinggi di dalam masyarakat, karena
kecendikiawanan mereka.
Diantara pustakawan terkenal Nizamiah adalah Abu Zakariah Tibrizi dan Ya’qub ibn Sulaiman AL-Askari. Pada tahun 1116 M perpustakaan ini mengalami musibah : kebakaran hebat yang menghabiskan seluruh bangunan dan isinya. Di samping bayt al- Hikmah, Khalifah Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa di madrasah yaitu perpustakaan al-Mustanriyah yang didirikan pada 1227 M. Uniknya perpustakaan ini adalah memiliki rumah sakit di dalamnya. Oleh karena itu perpustakan ini berfungsi sebagai madrasah dan rumah sakit. Pengelana dunia terkenal (Ibn Baththuthah) menjelaskan bahwa Mustanriah dan perpustakaannya, melalui sumbangan-sumbangan sekitar 150 unta dengan muatan buku-buku yang langka disumbangkan ke perpustakaan ini. Perpustakaan ini memiliki koleksi yang cukup besar, dari milik kerajaan saja perpustakaan Mustansiriah mendapatkan 80.000 buku.[16]
Diantara pustakawan terkenal Nizamiah adalah Abu Zakariah Tibrizi dan Ya’qub ibn Sulaiman AL-Askari. Pada tahun 1116 M perpustakaan ini mengalami musibah : kebakaran hebat yang menghabiskan seluruh bangunan dan isinya. Di samping bayt al- Hikmah, Khalifah Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa di madrasah yaitu perpustakaan al-Mustanriyah yang didirikan pada 1227 M. Uniknya perpustakaan ini adalah memiliki rumah sakit di dalamnya. Oleh karena itu perpustakan ini berfungsi sebagai madrasah dan rumah sakit. Pengelana dunia terkenal (Ibn Baththuthah) menjelaskan bahwa Mustanriah dan perpustakaannya, melalui sumbangan-sumbangan sekitar 150 unta dengan muatan buku-buku yang langka disumbangkan ke perpustakaan ini. Perpustakaan ini memiliki koleksi yang cukup besar, dari milik kerajaan saja perpustakaan Mustansiriah mendapatkan 80.000 buku.[16]
Bila
diperhatikan, perpustakaa pada waktu ini bukan hanya berkembang di Bagdad saja
melainkan hampir diseluruh kota besar di dunia timur. Kairo misalnya berdiri
perpustakaan khalifah dengan jumlah buku yang tersedia sekitar 2.000.000 (dua
juta) eksemplar. Selain dari itu ada lagi perpustakaan Darul Hikmah yang juga
bertempat di di Kairo. Perpustakaan ini mempunyai 40 lemari. Dalam setiap
lemari memuat sampai 18.000 buku. selain itu, diperpustakaan ini juga
disediakan segala yang diperlukan pengunjung seperti tinta, pena, kertas dan
tempat tinta. Perpustakaan ini terbuka untuk umum, bagi mereka yang ingin
menghabiskan waktu untuk menelaah buku-buku, juga disediakani penginapan, makan
dan bahkan diberi gaji. Untuk melihat bagaimana keadaan perpustakaan di Kairo
ini dapat diketahui dari perkataan Filosof besar Ibn Sina yang pernah
berkunjung kesana : ” Disana, saya menemukan sejumlah ruangan yang penuh dengan
buku, tersusun dalam lemari-lemari yang ditata dalam barisan yang rapi. Satu
ruangan dikhusukan bagi buku-buku tentang bahasa dan puisi; ruangan lain untuk
bidang hukum; dan seterusnya; kumpulan buku dalam bidang tertentu mempunyai
ruangannya sendiri. Lalu saya (Ibnu Sina) meneliti katalog penulis Yunani kuno
dan mencari buku yang saya butuhkan . Dalam koleksi perpustakaan ini saya
menemukan sejumlah buku yang hanya diketahui oleh sedikit orang saja, dan belum
pernah saya lihat dan tak pernah lagi saya lihat sesudahnya”.
Di Afrika Utara (Tripoli) berdiri pula perpustakaan yang dibangun oleh Bani Ammar.. Perpustakaan ini berisi buku-buku yang langka dan baru dijamannya. Bani Ammar mempekerjakan orang-orang pandai dan pedagang-pedagang untuk menjelajah negeri-negeri dan mengumpulkan buku-buku yang berfaedah dari negeri-negeri yang jauh dan dari wilayah-wilayah asing. Jumlah koleksi bukunya mencapai 1.000.000. Terdapat 180 penyalin yang menyalin buku-buku di sana.
Jika dialihkan panngan kita ke arah barat atau ke Andalusia, maka terlihatlah betapa majunya peradaban Islam disana. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, begitu juga lembaga-lembaga pendidikan temasuk perpustakaan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka berdirilah universitas Islam pada setiap pusat kota, seperti Cordova, di kota ini berdiri lembaga pendidikan sebanyak 27 buah dan bebeapa perpustakaan. Di samping pepustakaan pusat yang memiliki 400.000 buku terdapat pula perpustakaan-perpustakaan pribadi. ( Abdullah Salam 1980:25) Universitas Granada yang didirikan oleh khalifah Banu Nasr yang ke tujuh dan pada masa Yusuf Abu Al- Halaj ( 1333-1354M ) berdiri pula universitas Sevill dan Malaga (Muslim Ishak 1980:7).
Pada setiap universitas tersebut dilengkapi dengan perpustakaan yang mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap. Perpustakaan lain adalah perpustakaan Al-Hakam dengan koleksi buku didalamnya mencapai 400.000 buah. Perpustakaan ini mempunyai katalog-katalog yang sangat teliti dan teratur yang mencapai 44 bagian. Di perpustakaan ini terdapat pula para penyalin buku yang cakap dan penjilid-penjilid buku yang mahir.
Di Afrika Utara (Tripoli) berdiri pula perpustakaan yang dibangun oleh Bani Ammar.. Perpustakaan ini berisi buku-buku yang langka dan baru dijamannya. Bani Ammar mempekerjakan orang-orang pandai dan pedagang-pedagang untuk menjelajah negeri-negeri dan mengumpulkan buku-buku yang berfaedah dari negeri-negeri yang jauh dan dari wilayah-wilayah asing. Jumlah koleksi bukunya mencapai 1.000.000. Terdapat 180 penyalin yang menyalin buku-buku di sana.
Jika dialihkan panngan kita ke arah barat atau ke Andalusia, maka terlihatlah betapa majunya peradaban Islam disana. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, begitu juga lembaga-lembaga pendidikan temasuk perpustakaan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka berdirilah universitas Islam pada setiap pusat kota, seperti Cordova, di kota ini berdiri lembaga pendidikan sebanyak 27 buah dan bebeapa perpustakaan. Di samping pepustakaan pusat yang memiliki 400.000 buku terdapat pula perpustakaan-perpustakaan pribadi. ( Abdullah Salam 1980:25) Universitas Granada yang didirikan oleh khalifah Banu Nasr yang ke tujuh dan pada masa Yusuf Abu Al- Halaj ( 1333-1354M ) berdiri pula universitas Sevill dan Malaga (Muslim Ishak 1980:7).
Pada setiap universitas tersebut dilengkapi dengan perpustakaan yang mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap. Perpustakaan lain adalah perpustakaan Al-Hakam dengan koleksi buku didalamnya mencapai 400.000 buah. Perpustakaan ini mempunyai katalog-katalog yang sangat teliti dan teratur yang mencapai 44 bagian. Di perpustakaan ini terdapat pula para penyalin buku yang cakap dan penjilid-penjilid buku yang mahir.
Perpustakaan
–perpustakaan zaman tersebut tidak saja dilindungi dan ditopang oleh para
khalifah, tetapi juga para raja-raja kecil yang juga ikut memberikan sumbangan
untuk berdirinya perpustakaan-perpustakaan, sehngga banyak melahirkan
perpustakaan pribadi, salah satunya adalah perpustakaan pribadi milik Mahmud Al
Daulah ibn Fatik. Beliau adalah seorang yang ahli dalam menulis dan kolektor
besar, ia menghabiskan semua waktunya di perpustakaannya untuk membaca dan
menulis. hal inilah yan membawa beliau ke jenjang popularitas. Oleh karena itu
keluarganya merasa sedemikian diabaikan, sehingga ketika ia meninggal,
keluarganya berupaya untuk membuang buku-bukunya karena dibakar oleh kemarahan.
Para
pelindung perpustakaan juga mencurahkan sebagian besar pemikirannya untuk
desain, tata letak dan arsitektur perpustakaan agar masyarakat luas dapat
menjangkau buku-buku dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan dengan mudah.
Kebanyakan perpustakaan-perpustakaan tersebut ditempatkan di gedung yang
dirancang secara khusus, dengan banyak ruangan untuk berbagai tujuan,
galeri-galeri dengan rak buku, ruangan-ruangan untuk kuliah dan debat, termasuk
juga ruangan-ruangan untuk hiburan musikal. Semua ruangan berpermadani sehingga
para pembaca dapat duduk diatasnya. Gorden-gordennya menciptakan suasana
menyenangkan dan pengaturan ruangan menciptakan suhu yang sesuai.
Dilihat
dari penataan koleksi, perpustakaan-perpustakaan zaman tersebut pustakawan
sudah menata buku berdasarkan klasifikasi ilmu pengetahuan tertentu. Mereka
telah membuat sistem klasifikasi ilmu pengetahuan yang diterapkan untuk
penataan buku di perpustakaan. Diantara klasifikasi yang paling terkenal adalah
yang dibuat oleh : Al-Kindi (801-973 M ), Al Farabi (wafat pada 950 M), Ibn
Sina (980-1037 M), Al Ghazali (1058-1111M), Al-Razi (864-925 M) dan Ibnu
Khaldun (1332-1403 M). Para pustakawan pada umumnya memiliki kualitas yang
benar-benar tinggi, di samping berfungsi sebagai pustakawan mereka juga sebagai
penulis-penulis terkenal yang telah menerjemahkan karya-karya dari bahasa
Yunani dan Persia, diantaranya Al Murthadha yang mengepalai perpustakaan Subur,
ia adalah seorang ’alim dan cukup besar pengaruhnya dikalangan cendikiawan,
Hakim Abd Al-Aziz pemimpin perpustakaan Dar Al’Ilm di Kairo, terkenal karena
penguasaannya akan yurisprudensi. Profesi pustakawan zaman itu memberikan
kehormatan yang tinggi dan gaji yang cukup besar.
[1] Ditulis oleh Rohana.
[2] Sulistyo-Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama: 1991), hlm. 3.
[3] J. Pedersen, fajar Intelektualisme Islam: Buku dan
Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab, Terj. Alwiyah Abdurrahman,
(Bandung: Penerbit Mizan, 1996), hlm. 79.
[4] Al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulumi al-Qur’an, (Beirut: Alam al-Kutub, 1995), hlm. 53.
[5] Anis Masruri,
dkk., Sejarah Perpustakaan Islam. (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, 2006) hlm. 4.
[6] Q. S. al-Mujadalah: 11, Q. S.
al-Baqarah: 31-32, dan Q. S. az-Zumar: 9.
[7] Tentang pentingnya membaca dan
menulis digambarkan dalam al-Qur’an dengan perintah membaca sebagai ayat yang
pertama kali turun. Q. S. al-‘Alaq: 1-5, juga digambarkan dengan ungkapan
sumpah ‘Demi’ Qalam dan apa yang mereka tuliskan. Q. S. al-Qalam: 2
[8] Q.S. al-‘Alaq (96): 5.
[9] Abul Hasan ‘Ali
al-Hasani, an-. Nadwi,. Sirah Nabawiyah Sejarah Lengkap Nabi Muhammad Saw.
(Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2001) hlm. 121.
[10] Mehdi
Nakosteen, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis
Abad Kemasan Islam. (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), hlm. 29.
[11] Ibid, hlm. 87.
[12] J. Pedersen, Fajar Intelektualisme…hlm. 149.
[13] Ibid, hlm 150.
[14] Anis Masruri, dkk., Sejarah Perpustakaan Islam,…hlm. 11.
[16] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam…hlm 97.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar